16 Pembelajar Harajuku Berangkat Ke Jepang Melalui Skema Penempatan G to G Tahun 2021

*Seleksi Peserta Pelatihan Dalam Jaringan (Daring) Kemnaker RI Tahun 2020.

16 Pembalajar bahasa Jepang Harajuku secara berangsur dari tanggal 17-20 Agustus 2021 berangkat ke Jepang untuk bekerja sebagai perawat profesional melalui penempatan lulusan skema G to G (IJ-EPA), dimulai tepat di Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-76.  Sebagian besar dari mereka merupakan lulusan dari beberapa perguruan tinggi Keperawatan di Kabupaten Indramayu dan Kabupatan/Kota Cirebon yang telah bekerjasama dengan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Harajuku. 13 peserta diantaranya terpilih mengikuti pelatihan lanjutan bahasa Jepang Level N4 Dalam Jaringan (Daring) bagi Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) SSW yang diselenggarakan Kementrian Ketenagakerjaan RI dalam bimbingan persiapan pendaftaran penempatan kerja sebagai Nakes profesional di Jepang.

*10 Pembelajar Lulusan Akademi Keperawatan Saifuddin Zuhri – Kab. Indramayu

Jakarta, BP2MI (17/8) – Tepat di Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-76, Kepala BP2MI Benny Rhamdani melepas Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) kandidat Kangoshi (nurse) dan Kaigofukushishi (careworker) Batch 14, Program Government to Government (G to G) Jepang tahun 2021 di Jakarta, Selasa (17/8/2021). Dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat, sebanyak 271 CPMI ini akan diberangkatkan dalam empat gelombang, yaitu pada 17-20 Agustus 2021.

Dalam sambutannya secara virtual, Kepala BP2MI menyampaikan bahwa para CPMI yang berangkat ini adalah para pahlawan devisa yang membawa nama baik Bangsa Indonesia. Mereka sekaligus adalah para duta wisata Indonesia, yang keberangkatannya layaknya maraton dengan garis finish ketika mereka dapat menyelesaikan Perjanjian Kerja tanpa masalah.

“Pada momentum kemerdekaan RI ke-76 ini, sudah saatnya memerdekakan PMI dari jerat eksploitasi, demi mewujudkan PMI merdeka, berdaya, sejahtera,” jelas Benny.

Masih disampaikan oleh Benny, bahwa penting untuk memperluas jejaring dengan orang-orang yang membawa manfaat bagi kebaikan dan pengembangan diri para CPMI. Namun yang tak kalah penting adalah tetap memegang teguh ideologi Pancasila.

“Jalin kerja sama dan jangan lupakan semangat gotong- royong dan saling membantu dengan sesama anak bangsa. Namun ingatlah untuk selalu berpegang teguh pada ideologi Pancasila, jangan terjerumus pada ideologi transnasional rongsokan yang merusak jati diri dan identitas Indonesia. Tanamkan selalu jiwa Merah-Putih di dada kalian,” jelas Benny.

Diketahui bahwa para CPMI ini telah  mengikuti berbagai tahapan yang harus dilalui, yaitu melakukan tes psikologi dan test kemampuan keperawatan, wawancara langsung dengan pihak pengguna, melakukan medical check up hingga dinyatakan fit to work, mengikuti pelatihan Bahasa Jepang selama 6 bulan di Indonesia, dan  mengikuti Orientasi Pra Pemberangkatan (OPP). Proses tersebut juga masih akan berlanjut di Jepang, yaitu adanya pelatihan Bahasa Jepang lanjutan selama 6 bulan yang masih harus diikuti oleh 8 orang jabatan nurse dan 263 orang jabatan careworker.

“Sesampainya di Jepang, ikuti sebaik-baiknya, bukan hanya agar lulus pelatihan, tapi karena kemampuan bahasa menjadi kunci dari pelindungan diri dan juga penentu keberhasilan kerja di negara penempatan,” jelas Benny.

Diingatkan pula kepada seluruh CPMI untuk melapor kepada KBRI/perwakilan di Jepang dan bila memiliki waktu luang dapat mengikuti program-program pemberdayaan demi peningkatan keahlian dan mematangkan rencana berwirausaha atau bekerja produktif lainnya. Pemberdayaan yang berkelanjutan mulai dari pra hingga purna penempatan merupakan bentuk hadirnya negara dalam melindungi PMI dan keluarganya.

Dalam kesempatan ini Duta Besar Jepang untuk Republik Indonesia, Kanasugi Kenji, turut hadir dalam memberikan sambutan secara virtual.

“Para CPMI ini nantinya akan mengikuti pelatihan di Jepang. Ke depannya, Pemerintah Jepang akan bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia untuk membarui sistem pelatihan ini ke arah yang lebih baik, agar kelak lebih banyak peserta pelatihan dapat lulus secara nasional dan bekerja ke Jepang,” ucap Kanasugi.

Kepala BP2MI menyambut baik hal ini. Diberikan pula ucapan terima kasih kepada Pemerintah Jepang, yang meskipun di masa pandemi Covid-19, namun tetap memberikan kesempatan bekerja dengan memberikan izin khusus (special circumstances) kepada kandidat Kangoshi dan Kaigofukushishi dari Indonesia untuk dapat masuk ke Jepang.

*Pelepasan 271 CPMI Nurse & Careworker skema G to G oleh Kepala BP2MI Bpk. Benny Rhamdani.

Setelah melaksanakan apel bersama via virtual, Kepala BP2MI melepas langsung gelombang pertama keberangkatan 68 CPMI di Hotel Ciputra, Jakarta.

“Melalui keberangkatan ini membuktikan kehadiran negara yang memfasilitasi para CPMI, mulai dari pelatihan keterampilan, kemampuan bahasa dll. Dengan keahlian yang mereka miliki, mereka digaji minimal Rp 22 juta oleh Jepang. Di sisi lain, dengan keberangkatan ini sekaligus memerangi penempatan ilegal PMI. Pemerintah Jepang sendiri membuka target penempatan 70.000 CPMI hingga tahun 2024. Saat ini Indonesia baru mampu memenuhi kuota sekitar 5000 orang. Karena itu, kami terus melakukan sosialiasi ke daerah-daerah untuk merangkul Pemda setempat,” ungkap Benny.

Kepala BP2MI juga menyampaikan apresiasi terhadap dukungan dan perhatian dari semua institusi pemerintah, yaitu Kemenaker, Kemenkes, dan Kemenlu yang terlibat langsung dalam penempatan ini, dan juga kepada para kolega BP2MI yaitu Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, JICWELS (Japan International Corporation of Welfare Service) sebagai institusi yang menangani penempatan PMI di Jepang, dan juga Japan Foundation yang telah memberi pelatihan kemampuan Bahasa Jepang yang baik. Juga kepada Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnership (AOTS), selaku institusi yang ditunjuk untuk melakukan proses pemberangkatan bagi para PMI dan bertanggung jawab untuk mendidik dan melatih para PMI di Jepang nanti. (Sumber. berita utama website BP2MI).